Di kala senja tiba hari ini. Entah mengapa perasaanku begitu tak menentu. Rasa resah itu begitu menyesakkan dada. Rasanya sesak, hingga membuat diri ini tak mampu untuk bernafas dengan normal. Perasaan tidak enak itu terus aku rasakan. Semakin lama rasa itu semakin aku rasakan. Tidak tahu apa yang menyebabkan perasaan itu muncul. Tak mau menghilang. Yang ada malah semakin kuat kurasakan.

“Akan ada apa sebernarnya? Kenapa rasa resah ini tak kunjung hilang?” Gumamku dengan lirih. Kutatap persawahan yang terhampar luas di luar sana dari jendela rumah. Padi-padi itu mulai menguning. Pertanda siap untuk dipanen. Musim panen hampir tiba, para petani pasti nanti akan disibukkan dengan kegiatan memanen hasil sawah mereka.

“Senja nan syahdu, entah apa penyebabnya, aku tak merasakan ketenang seperti yang kuharapkan. Hati ini dirundung resah, yang membuat jiwa semakin gelisah. Ada apa gerangan dengan hari ini?” lagi, aku bergumam lirih pada diriku sendiri.

Hingga tiba-tiba terdengar suara ribut dari arah belakang rumah. Suaranya yang riuh itu berhasil mengalihkan diri ini. Yang masih terpaku pada keresahan yang dirasakan oleh hati ini. Bergegas aku berjalan tergopoh-gopoh menuju ke sana. Melihat ada apa, namun, saat sampai aku tidak melihat ada apapun disana. Hanya kekosongan yang kulihat. Tak ada sesuatu apapun yang terlihat.

Hanya berbagai macam tanaman sayuran dan pohon buah yang sengaja aku tanam. Tak ada hal yang janggal, ataupun mencurigakan dari arah kebun kecil milikku utu. “Halo? Siapa disana?” Entah pada siapa aku bertanya. Karena sapaan itu sontak keluar begitu saja dari mulutku. Menunggu beberapa saat, berharap akan mendapat sebuat jawaban. Namun, hingga menit ke lima hanya kesunyian yang menyapaku.

Desiran halus angin petanglah yang menyambut sapaan yang kulontarkan tadi.Lagi, rasa tidak enak itu kembali hadir. Kini, diiringi oleh perasaan was was dan takut. Takut dengan keadaan yang entah kenapa tiba-tiba saja menjadi mencekam seperti ini. “Huft, mungkin cuma perasaanku aja,” lirihku sambil berbalik masuk. Sambil mengabaikan segala perasaan gundah dan resah yang kurasakan.

Aku pun memilih untuk mengabikan saja semua perasaan itu. Berpikiran positif, jika hari ini sama dengan hari-hari yang seperti biasanya. Tidak ada hal yang janggal, atau pun mencurigakan. “Semuanya akan baik-baik saja. Gak akan ada apa-apa, ya, hari ini sama seperti kemarin dan sebelumnya,” gumamku meyakinkan diri. Tak ingin terus terlarut dengan semua perasaan itu. Yang hanya akan membuat hati dan perasaan ini semakin gelisah dan resah.

Perjalanan dari pintu belakang menuju ke ruang tamu terasa begitu panjang dan jauh. Membuat rasa itu kembali gelisah. Keringat dingin mulai muncul membasahi. Rasa itu kini kembali, dengan hantaman yang jauh lebih kuat dan besar daripada sebelumnya. Dadaku kini berdetak dengan irama yang begitu kuat dan tak beraturan. Membuat nafasku naik turun, terengah dan tak beraturan. Tubuhku saja bahkan tanpa sadar gemetaran. Membuat hatiku semakin menjerit gelisah. Ada apa dengan diriku hari ini? Mengapa aku harus merasakaan perasaan yang seperti ini?

“Apa itu?” pekikku dengan tatapan nanar terarah ke pintu masuk yang tiba-tiba terbuka lebar. Namun, sayangnya mulutku begitu kelu. Rasanya begitu sulit untuk mengeluarkan suara selain nafas yang tercekat melihatnya.

Categorized in:

stories,

Last Update: 05/08/2026